CERITASEX PEMERKOSAAN SADIS TERHADAP SPG, DARI BERONTAK SAMPAI PUAS

DuniaSex99July 1, 2018

Duniasex99 – Kisah pemerkosaan SPG yang sombong, kudekati telinga Vera, dia sudah ketakutan padaku dan dai  berusaha menjauhkan kepalanya. mungkin dikiranya aku mau mengigit telinga. ku bisikan sesuatu di telinga Vera,

” Vera, gimana kalau kita ganti alatnyam sekarang pakai ikat pinggang saja ya ” Bisikku sambil menyeringai sadis.

Vera menunjukkan ekspresi terkejut setengah tidak percaya bahwa dia akan menerima siksaan yang lebih hebat.

” Ampun, lepaskan saya ” Katanya meskipun tahu aku tidak akan melepaskannya.

Kubuka ikat pingagangku yang terbuat dari kulit, kulilitkan sebagian pada telapak tanganku.

Vera melirikku dengan ketakutan yang amat sangat. Nafasnya tersengal – sengal meskipun dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengaturnya. Mungkin dengan mengatur nafas dia berharap sabetab ikat pinggangku tidak akan terlalu sakit.

Kuangkat tinggi tanganku dan kuayunkan dengan keras, Vera memejamkan matanya, saat ikan pinggangku mendarat di pahanya terdengar meja yang ditiduri nya agak berderit karena tubuh Vera secaraa spontan bergetar tersendat – sendit.

Kali ini bukan hanya garis merah yang tampak, tetapi semacam jalur merah tercetak di paha Vera.

” Ceplas.. Ceplass… ” Sabetan ikat pinggangku semakin liar menghujani tubuh Vera.

Vera sudah tidak bisa berkata apa – apa lagi, dia hanya menggeleng ke kiri ke kanan menahan penderitaan yang ku berikan dan kini aku sudah puas dari samping.

” Bagaimana kalau pukulan yang mengarah langsung ke liang kewanitaannya? ” PIkirku.

Lalu aku mulai menyobek  celana dalamnya dan minta kepada dua temanku untuk melepaskan ikatan kaki Vera dan mengikatnya kembali pada posisi menekuk ke atas dan mengangkang, sehingga liang kewanitaannya terbuka lebar. Vera berusaha meronta dan menutup liang kewanitaannya yang terbuka lebar.

Baca Juga :   Dapat Perawan ABG Tetangga Gara-Gara BF

Vera berusaha meronta dan menutup liang kewanitaan dengan kakinya, namun ikatan kami  cukup kuat dan erat sehingga kedua kekinya tidak bisa mengatup. Persis menghadap liang kewanitannya, aku mengelus – elusnya sambil tersenyum sinis. Vera mengangkat kepalanya dan menatapku dengan pandangan nanar.

Aku mulai menjauh, ikat pinggangku mulai kuputar – putar, laluu,,

” Ceplasss… ” Ikat pinggang itu mendarat dengan tepat di bibir liang kewanitaan Vera.

Kali ini Vera meronta – ronta dengan  cukup lama, tampaknya dia sangat kesakitan. Kepalanya ditengadahkan ke atas sembari mengguncang-guncangkan pantatnya diatas meja.

Aku berjalan kesampingnya dan berkata :

” Lagii ? ”  Tanyaku seolah tak menghiraukan penderitaan yang di alaminya.

Vera tidak mengatakan apa – apa, kelihatannya dia sudah pasrah. Aku tersenyum penuh kemenangan dan kusentuh  bibir liang kewanitannya yang tentunya masih pedih. Vera menggelinjang dan aku tak peduli ku gesek – gesekkan jariku di liang senggamanya, tubuh Vera terus menggelinjang.

” Sakit.. Sakiittt… ”  Gumamnya liirih.

Seolah tak peduli, kembali aku mengambil dia jepitan dan kujepiit di keduaa bibir liang kewanitannya yang memerah itu. Vera menatapku dengan pandangan tak percaya akan kesadisanku.

” Okee tidak ada pukulan lagi ” Kataku, Vera hanya diam saja tanpa ekspresi.

” Tapi sekarang waktunya bermain lilin ” Lanjutku sambil menyunggingkan senyum.

Kali ini Vera menolehkan wajahnya yang layu, berkeringat dan basah karena air matanya. Bisa kubaca dalam pikirannya

” Ohh, apalagi yang akan diperbuatnya pada tubuhku.. sungguh malang nasibku.. ” Memang di kamar aguk ada beberapa lilin yang memang di sediakannya untuk berjaga – jaga jika mati lampu, ada yang kecil dan ada juga yang besar.

Baca Juga :   Cerita Dewasa Sex - Menikmati tubuh Penari Bali

Ku ambil Zippoku, ku nyalakan satu lilin yang kecil. Lidah api menari berputar – putar melelehkan batang lilin yang menahannya, Menembus lidah api itu, kulihat pandangna Vera yang berharap aku hanya bercanda. Kujawab juga dengan pandangagn juga yang menyatakan bahwa aku serius. Segera lilin yang kupegang kumiringkan di atas payudara Vera.

Kulihat ekspresi Vera yang memandang lekat pada batang lilin, pandangannya seolah berharap agar lilin tersebut tidak meleleha tau apinya tiba – tiba mati. Tapi tentu saja itu tidak akan terjadi, yang terjadi adalah tetesan pertama jatuh dan menetes di atas puting susu Vera sebelah kanan. Vera mendesaah, punggungnya terlihat bergerak keatas dan menahan panas lilin yang meleleh itu.

Tetesan demi tetesan bergerak jatuh, dan Vera terlihat semakin kesakitan karena tetesa tersebut jatuh di tempat bekas pecut dan sabtean ikat pinggangku tadi.

Tiba – Tibaa saja Teman – Temanku ikut bergabuung, mereka semua memegang lilin bahkan tidak hanya satu tapi tiga atau empat sekaligus, Mereka dengan  gembira meneteskan ke bagian – bagian sensitif Vera, sperti buah dada, pusar, sekitar liang kewanitaan dan paha.

Kali ini Vera seperti ular kepanasan, dia meliuk – liukkan tubuhnya menahan pnas tetesan lilin.